Milenial Ayo Nyoblos, Jangan Bolos

Milenial Ayo Nyoblos, Jangan Bolos
Oleh: Slamet Widodo, S.Pd
(Guru Matematika MTs Negeri 3 Bojonegoro)

Saat ini sudah bulan April 2019. Bulan yang sangat ditunggu-tunggu oleh seluruh rakyat Indonesia. Sebab, di bulan ini, rakyat Indonesia tengah menyelenggarakan pesta demokrasi. Pesta untuk memilih secara langsung Presiden dan wakil presiden, Anggota Legislatif (DPR RI dan DPRD) dan juga anggota DPD. Yang akan memimpin Indonesia selama lima tahun ke depan. Seperti apa wajah, corak dan warna Indonesia lima tahun ke depan, akan ditentukan dalam sehari. Yakni pada tanggal 17 April 2019 mendatang.

Hari itu menjadi hari yang sangat penting untuk menentukan nasib bangsa Indonesia lima tahun ke depan. Oleh sebab itu, partisipasi rakyat dalam menyukseskan pemilu tersebut sangat dibutuhkan. Caranya dengan datang ke TPS, dan memilih salah satu calon sesuai dengan pilihannya masing-masing. Sukses dan tidaknya pemilu ini berada di tangan rakyat.

Menurut Peneliti Komite Independen Pemantau Pemilu (KIPP) Indonesia, Andrian Habibi, salah satu indikator suksesnya pemilu adalah rendahnya angka golput (golongan putih: sebutan bagi warga negara yang tidak menyalurkan suaranya saat pemilu).

Peran generasi Milenial tak kalah pentingnya dalam menyukseskan pemilu ini. Betapa tidak, seperti yang diberitakan www.brilio.net, berdasarkan data Komisi Pemilihan Umum (KPU), jumlah pemilih Milenial mencapai 70 juta-80 juta jiwa dari 193 juta pemilih. Artinya, sekitar 35-40 persen memiliki pengaruh besar terhadap hasil pemilu dan menentukan siapa pemimpin di masa mendatang.

Pantas saja, para politisi berusaha merayu dan memikat hati generasi Milenial, agar memilih mereka. Kaum milenial adalah ladang basah bagi mereka. Meski usia para politisi itu sudah tidak Milenial lagi. Namun, dalam kampanye mereka macak menjadi Milenial. Dan mengklaim diri dan kubunya sebagai sosok paling Milenial.

Namun, kesan negatif telah tersemat bagi generasi yang lahir di atas tahun 1980-an ini. Mereka dicap sebagai generasi yang acuh terhadap perkembangan politik di negaranya. Mereka cenderung memilih cara dan gayanya sendiri. Dan sering memilih golput dalam pemilu. Hal itu bukan tanpa alasan. Mereka cenderung memiliki tingkat kepercayaan rendah pada politisi. Selain itu juga sinis terhadap berbagai lembaga politik dan pemerintahan. Semua itu disebabkan karena ulah politisi yang menyajikan pendidikan politik yang menjijikkan kepada rakyat.

Di sisi lain, ada sebuah studi yang membantah anggapan di atas. Studi tersebut menyebutkan bahwa generasi muda adalah kelompok yang dinilai paling peduli terhadap berbagai isu politik (Harris, 2013).

Pendapat yang kedua ini, sangat logis. Terbukti saat ini banyak politisi muda yang turut bertarung merebut hati rakyat. Dengan memajang foto terbaik dirinya di pinggir-pinggir jalan. Untuk menduduki kursi di DPR RI, DPRD Propinsi dan kabupaten/kota. Mereka mengklaim akan sanggup dan mampu mengemban amanah rakyat. Akan siap menyuarakan penderitaan rakyat. Dan janji-janji manis atas nama rakyat. Setidaknya meraka telah bertekad berjuang untuk kemajuan bangsa dan negara tercinta ini.

Saya teringat dengan pesan Presiden pertama Indonesia, Ir. Soekarno: “Beri aku seribu orang tua, niscaya akan kucabut Semeru dari akarnya. Beri aku 10 pemuda, niscaya akan kuguncang dunia.”

Pesan itu memiliki makna bahwa generasi muda adalah generasi yang penuh potensi. Generasi dengan semangat yang berkobar-kobar. Mereka sebagai agent of change (agen perubahan) sosial. Mereka adalah harapan dan tumpuan bangsa Indonesia di masa mendatang.

Ayolah para pemuda, kini saatnya mengerahkan kekuatan baik tenaga dan pikiran, berjuang untuk kemajuan dan kesejahteraan bangsa.

Satu pesan John F. Kennedy, “Jangan pernah bertanya apa yang diberikan negara kepadamu, namun bertanyalah apa yang sudah kami berikan untuk negara.”

Untuk itu, ayo datanglah ke tempat pemungutan suara (TPS) terdekat. Gunakan hak suaramu untuk memilih Presiden dan wakilnya serta anggota legislatif pada pemilu 17 April mendatang. Itu adalah salah satu wujud pengabdianmu terhadap negara ini.

—-
Kepohabaru, 10 April 2019

Komentar anda tentang artikel ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *