Bagaimana Menghadapi Pertanyaan Yang Sulit

*Bagaimana Menghadapi Pertanyaan Yang Sulit?*
Oleh: Ajun Pujang Anom

Mengapa memilih “menghadapi” daripada “menjawab”? Sebab “menghadapi” adalah soal cara, sikap. Sedangkan “menjawab” adalah tentang tindakan balasan secara head to head. Jadi meski kelihatannya sama, namun maknanya beda.

Ketika hal ini dimasukkan ke dalam situasi kelas, maka akan menjadi tepat. Karena dalam membimbing anak, guru tidak sekedar mentransfer sejumlah pengetahuan, namun juga ada etika yang beriringan.

Seperti yang kita ketahui sulit atau tidaknya sebuah pertanyaan, dapat tergantung dari pandangan pribadi, usia, informasi, budaya, dan lain sebagainya. Sehingga pertanyaan berikut ini bisa digolongkan susah atau mudah, tergantung bagaimana guru menyikapinya.

Beginilah pertanyaannya, “Dimanakah letak Wakanda?”

Pertanyaan semacam ini jelas akan mendeteksi sejauhmana guru dapat bersikap. Bagi guru yang lemah pengetahuan dan punya karakter ogah-ogahan, pasti akan menjawab, “Wah, bapak tidak tahu letaknya.”

Jika ini yang dilakukan, secara tidak langsung akan mencoreng citra guru. Bapak gurunya itu bisa dianggap tidak kompeten. Tapi ini masih mending dibandingkan, jika anak itu berpikir, bahwa semua gurunya adalah sekumpulan orang bodoh. Ini jelas hal yang membahayakan. Asumsi model “gebyah-uyah” ini, akan merontokkan semangat siswa itu untuk terus belajar. Apalagi bila si anak itu ikut memprovokasi teman-teman, malah menjadi sesuatu yang mengerikan.

Atau mungkin guru itu merespons dengan begini, “Kalau tanya itu, jangan yang aneh-aneh.” Balasan semacam ini, dapat membuat anak tak punya minat bertanya lagi. Karena dia berpikir, tidak ada gunanya lagi bertanya. Bila ini terjadi, tentu sangat merugikan. Daya nalar anak ke depan tidak akan berkembang, karena ditepiskan keberadaannya sedari awal.

Maka tak salah rasanya, jika kita sebagai guru harus mampu bersikap sebagaimana layaknya guru. Sesulit apapun pertanyaan yang muncul dari diri siswa, harus disikapi dengan tenang dan bijak. Gaya marah-marah maupun “counter-attack” sudah tak patut lagi untuk dipertahankan.

Oleh karena itu, harus ditanamkan di dalam diri keinginan untuk selalu “memperbarui” kemampuan. Termasuk kemampuan untuk menginspirasi dan memotivasi. Sebab dua kemampuan ini sangat penting dan dibutuhkan untuk saat ini.

_Bojonegoro, 7 Maret 2019_

Komentar anda tentang artikel ini: